PANGKEP - Layar tancap pernah menjadi hiburan rakyat yang sangat dinantikan, terutama di daerah seperti Pangkep. Dulu, setiap Minggu malam, warga berbondong-bondong membawa tikar ke lapangan untuk menikmati film bersama keluarga dan tetangga. Namun, seiring berkembangnya teknologi dan munculnya televisi serta internet, tradisi ini perlahan menghilang. Kini, muncul gagasan untuk menghidupkan kembali layar tancap di Tribun Citramas sebagai sarana hiburan dan edukasi bagi masyarakat.
Mengapa layar tancap perlu dihidupkan kembali? Pertama, layar tancap merupakan hiburan murah meriah yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Tidak semua warga memiliki akses mudah ke bioskop atau platform streaming berbayar. Dengan adanya layar tancap, masyarakat dapat menikmati tontonan berkualitas secara gratis dan dalam suasana kebersamaan yang erat.
Kedua, layar tancap bukan sekadar hiburan, tetapi juga bisa menjadi media edukasi. Film yang diputar dapat berupa dokumenter tentang budaya lokal, sejarah Pangkep, atau isu-isu penting seperti kesehatan dan lingkungan. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya terhibur tetapi juga mendapatkan wawasan baru yang bermanfaat.
Selain itu, keberadaan layar tancap juga dapat mendukung ekonomi lokal. Pedagang kecil bisa menjajakan makanan dan minuman di sekitar lokasi pemutaran film, menciptakan suasana seperti pasar malam yang ramai dan menguntungkan banyak pihak. Hal ini tentu menjadi nilai tambah bagi Pangkep dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatifnya.
Namun, untuk merealisasikan ide ini, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, komunitas film, dan sponsor swasta. Pengadaan alat pemutar film, layar besar, serta biaya operasional tentu memerlukan dana. Oleh karena itu, konsep ini harus dirancang dengan matang agar dapat berkelanjutan dalam jangka panjang.
Di era digital, promosi layar tancap juga bisa dilakukan dengan lebih efektif. Jika dulu mobil keliling digunakan untuk mengumumkan pemutaran film, kini media sosial dapat menjadi alat yang lebih efisien untuk menjangkau masyarakat. Dengan memanfaatkan teknologi, layar tancap dapat tetap relevan dan menarik minat banyak orang.
Selain itu, pemilihan film yang tepat juga menjadi faktor penting. Film-film yang ditayangkan harus memiliki nilai hiburan sekaligus pesan moral yang baik. Bisa juga ditampilkan karya-karya sineas lokal agar potensi perfilman daerah semakin berkembang dan mendapat apresiasi yang lebih luas.
Menghidupkan kembali layar tancap bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menciptakan ruang bagi interaksi sosial yang lebih erat. Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, layar tancap bisa menjadi momen di mana masyarakat berkumpul, berbagi cerita, dan mempererat kebersamaan.
Jika dikelola dengan baik, layar tancap di Tribun Citramas bisa menjadi ikon hiburan rakyat Pangkep yang membanggakan. Tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membawa manfaat sosial, edukatif, dan ekonomi. Oleh karena itu, gagasan ini patut didukung dan segera diwujudkan demi ebaikan bersama.
Penulis:
Herman Djide Ketua Dewan Pimpinan Daerah ( DPD) Jurnalis Nasional Indonesia ( JNI ) Cabang Kabupaten Pangkep